Kamis, 03 April 2014

Indahnya Persahabatan



Persahabatan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, didalamnya ada nilai-nilai luhur yang terkandung. Dalam islam, persahabatan yang berharap ridho Alloh SWT sajalah yang memliki nilai ibadah dan amal sholeh yang besar. Persahabatan yang selain berharap ridlo Alloh SWT, berarti pertemanan biasa, hanya formalitas, contohnya :  berteman karena satu korp, satu partai, atau satu kepentingan dalam sebuah perusahaan. Sepanjang kepentingan/ tujuan formal diantara mereka tercapai maka itulah puncak dari persahabatannya.
  
Bersahabat berarti berteman duduk, bergaul dan berdekatan. Tindakan seperti itu hanya dilakukan seseorang terhadap orang yang disukai/dikasihi, karena orang yang tak disukai akan dijauhi dan tidak digauli. Berbeda dengan persahabatan karena kepentingan dan tujuan, mereka disatukan karena kepentingan itu sendiri. Persahabatan seperti ini rentan karena bangunan pertemanan mereka semata keuntungan materi, sehingga bila salah satu tak memenuhi kepentingan/tujuannya, maka berlaku hukum alam, yang lemah/tak berkuasa/tak memberi keuntungan, pasti akan dilupakan bahkan ditinggalkan.

PERSAHABATAN KARENA ALLAH
Dalam persahabatan harus dilandasi karena Allah, karena persahabatan yang demikian akan membawa berkah. Setidaknya, ada dua keuntungan, pertama faedah di bidang dunia dan kedua dibidang agama. Faedah keduniawian mendapatkan keuntungan materil berupa harta kekayaan maupun moril berupa pangkat dan jabatan.  

Sedangkan keuntungan dalam bidang agama, jumlahnya tidak akan terhitung, karena Allah sendiri yang akan menilai. Seperti yang tersirat dalam salah satu hadis. Nabi s.a.w. bersabda, (riwayat  Turmuzi dan Ibnu Madjah dari Abu Hurairah) :”bersikap baiklah kepada tetanggamu dan engkau akan menjadi muslim sejati, dan bersikap baikalah dalam persahabatan niscaya engkau akan menjadi Mukmin sejati.”

Kesejatian iman dijadikan imbalan bagi persahabatan, dan kesejatian Islam dijadikan imbalan kebaikan bertetangga.  Hak dan kewajiban persahabatan itu berat sekali yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang yakin, maka tak diragukan lagi bahwa pahalanya amatlah besar dan hanya dapat dicapai oleh orang yang diberi taufik oleh Tuhan.

HAK DAN KEWAJIABAN DALAM PERSAHABATAN  
Bantulah sahabat dengan menjaga LISAN anda, jangan menyebutkan kejelekan dibelakang maupun dihadapannya, jangan mematahkan pembicaraanya, jangan melecehkan dan mendebatnya atau mengintip dan menyelidik sesuatu hal tentang dirinya.

Hendaklan anda menyimpan rahasianya yang dipercayakan kepada anda, dan jangan sekali-kali disiarkan, meskipun hubungan telah terputus. Jangan mencela orang-orang yang disayanginya, keluarga juga anak-anaknya. Begitupun jangan menceritakan celaan orang lain kepadanya, karena yang memakimu sebenarnya ialah orang yang menyampaikan makian orang kepadamu.

ANAS BIN MALIK BERUJAR : adalah Nabi saw. Tak sudi menjengkelkan orang. Apabila ada orang yang menceritakan kejelekannya kepada kita, hendaklah anda tak mengacuhkan. Begitupun sebaliknya anda tak perlu menceritakan kepada teman anda, sesuatu dari orang lain yang sifatnya tercela. Namun demikian tentang pujian janganlah anda menutup-nutupi terhadap teman yang terdengar oleh kita. Intinya hindarkan setiap perkataan yang tak disukainya, baik secara umum ataupun terperinci, kecuali bila diperlukan dalam AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR.

Menceritakan keburukan kawan, ‘aib diri’ dan keluarganya adalah termasuk gunjing atau gossip yang haram dilakukan setiap muslim. Untuk mencegah agar anda tak terjerumus kedalam gunjing maka perbanyaklah intropeksi dan memaklumkan.

Orang mukmin selalu memikirkan kebaikan sahabatnya, dan tak pernah memikirkan keburukannya, dengan demikian akan timbul rasa hormat, cinta dan penghargaan. Tidak demikian dengan orang munafik yang selalu mencari-cari keburukan dan kesalahan orang lain. IBNU MUBARAK BERKATA :orang2 Mukmin mencari jalan untuk memaafkan sedang orang munafik mencari2 kesalahan.

Selain kewajiban menjaga lisan tentang keburukan, begitupun hendaknya Anda menjaga  hati anda dari berburuk sangka kepada sahabat, karena buruk sangka,termasuk gunjing hati. Perbanyaklah menafsirkan hal-hal yang baik dan jangan menafsirkan hal-hal yang buruk, namun demikian, apabila tersingkap secara menyakinkan, tentang keburukan sahabat anda secara penyaksian maka hendaklah anda membawa kenyataan ini sebagai bentuk kekhilapan manusia.

Nabi saw, bersabda (mutafaq Alaihi dari Abu Hurairah) : “jauhilah oleh mu buruk sangka karena prasangka itu adalah berita bohong.” Buruk sangka membawa kita kepada kegiatan mencari-cari kesalahan orang lain. Nabi saw, bersabda (mutafaq Alaihi dari Abu Hurairah) : “Buruk sangka membawa kepada mengintai, mengintip, berselisih dan saling berbelakangan, hendaklah kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara!.”  

“barang siapa yang menutup aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan diakhirat” begitu Nabi saw bersabda.

Disamping kewajiban kita berdiam terhadap hal-hal yang buruk dari teman, tapi sepatutnya,  kita tampil BERBICARA terhadap kebaikan teman, Nyatakanlah rasa kasih sayang kepada sahabat dan tayakan yang perlu ditanyakan. Ungkapkan rasa simpati atas suatu cobaan sahabat serta berharap Allah segera mencabutnya, begitupun mengungkapkan rasa kegembiraan apabila sahabat  kita mendapatkan kebahagiaan. Itulah persahabatan harus ada kebersamaan dalam suka maupun duka.

Mengutarakan kasih sayang kepada sahabat adalah dianjurkan oleh syariat dan sangat terpuji, karena dengan demikian akan timbul rasa kasih sayang pula dari sahabat kita, tentunya akan menambah rasa kasih sayang itu sendiri selain akan membangkitkan perasaan akrab antara kedua belah pihak.. Sabda Nabi saw, (riwayat Abu Daud & Turmuzi dari MIqdam) :” Bila seseorang  sayang kepada saudaranya maka hendaklah dinyatakan kepadanya.”

MAAFKAN kesalahan dan kechilapan sahabat seraya memberikan nasihat dengan kasih sayang agar ia tidak terjerumus dalam kesesatan. Memberikan nasihat kepada sahabat haruslah dengan kesabaran. Selain dengan kata-kata yang lembut terkadang diperlukan juga dengan kata-kata mengkritik, hal tersebut diperlukan bagi sahabat yang keras hati yang tidak bisa berobah dengan kata-kata lembut.

Namun apabila masih tetap tidak berubah dalam menjalankan kekufuran maka sebaiknya anda bersikap tegas dengan kata-kata yang keras atau bila tak sanggup, menurut beberapa ulama berpisah dengan teman seperti ini adalah jalan terbaik. Karena apa artinya bersahabat apabila nasihat dan kritik tak mampu membuat dia sadar akan kekeliruanya.

Hendaklah Anda MENDO’AKAN sahabat semasa masih hidup dan sepeninggalnya. Do’akan dia seperti untuk diri kita sendiri, tanpa membeda-bedakan.  Mulianya orang yang mendo’akan sahabatnya, seperti tersirat dalam sabda Nabi saw, (riwayat Muslim dari Abu Darda) :” Bila seseorang mendoakan temannya saat temannya tidak tahu, maka para Malaikat akan mengucapkan amin : Untuk anda seperti itu pula.”

Dalam versi lain sabda Nabi saw, (riwayat Darqutny dari Abu Darda): “ Doa seorang sahabat untuk sahabatnya dipembelakangan, tak akan ditolak.”

Haruslah SETIA dan IKHLAS dalam meneruskan kasih sayang kepada sahabat sehingga mati memisahkan, bahkan sepeninggalnya harus di lanjutkan kepada anak-anak dan kawan2-nya. Ingat tujuan kita bersahabat adalah untuk akhirat bila kita putus ditengah jalan sebelum mati, maka gagal usaha dan sia-sia lah jerih payah.

Kesetiaan dalam persahabatan termasuk didalamnya adalah meramahi kawan, keluarga dan teman dekatnya. Sesungguhnya dengan meramahi dan menyambangi teman, keluarga maupun teman dekatnya merupakan tanda kesetian dan keikhlasan dalam persahabatan, hal itu menandakan bahwa persahabatan  tidak boleh dibatasi oleh kematian atau ketiadaan sahabat kita

Apalagi jika teman kita masih hidup, selayaknya kita berkewajiban menjenguk dan meramahinya dengan kasih sayang. Tunjukan rasa kesetiaan kita terhadapnya disaat suka apalagi disaat teman kita sedang mendapat cobaan dari Allah SWT. Ikhlaskan hati kita untuk terus menemani, membantu dan menyayanginya, meskipun sahabat kita, sudah tidak bisa lagi membantu kita  karena beratnya cobaan yang dihadapi.

Perlakukanlah dia dengan penuh kasih sayang seperti ketika dia masih bisa berkecimpung dan membantu kita, janganlah sekali-kali meninggalkan sahabat disaat-saat sulit dalam hidupnya. Karena sesungguhnya meninggalkan atau menelantarkan sahabat, disaat dia memerlukan adalah perilaku orang-orang  munafik jauh dari agama.

RINGANKAN BEBAN KAWAN dengan tidak memberikan pekerjaan sulit kepadanya. Janganlah terlalu membebankan kebutuhan pada sahabat. Harta ,pangkat dan jabatannya jangan terlalu diberatinya dengan kepentingan dan kebutuhan kita. Seharusnya kita hanya mengasihinya karena Allah dan untuk meminta berkat dan do’a-nya seraya merasa senang bergaul serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan melayaninya.

Ingatlah terlalu memanfaatkan sahabat bisa membawa malapetaka, karena sifat persahabatan bisa membawa kepada pengorbanan jiwa, harta maupun tenaga. Tak sedikit orang yang tergelincir/khilaf, karena ingin menolong sahabat lantas jalan pintaspun dilakukan.

Ingatlah kata ulama bijak : orang yang menuntut dari saudaranya hal-hal yang tidak diwajibkannya berarti dia sudah menganiayanya, dan siapa yang menuntut seimbang dengan yang diberikannya berarti merepotkannya, sedangkan yang memberi tapi tiada menuntut itulah yang dapat melebihi sahabatnya (itulah yang terbaik).  

Tulisan ini diadaptasi dari buku Ihya Ulumudin Adab Persahabatan karya Alghazali
Aep Alamsyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar