Persahabatan
merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, didalamnya ada nilai-nilai luhur
yang terkandung. Dalam islam, persahabatan yang berharap ridho Alloh SWT sajalah
yang memliki nilai ibadah dan amal sholeh yang besar. Persahabatan yang selain
berharap ridlo Alloh SWT, berarti pertemanan biasa, hanya formalitas, contohnya
: berteman karena satu korp, satu
partai, atau satu kepentingan dalam sebuah perusahaan. Sepanjang kepentingan/
tujuan formal diantara mereka tercapai maka itulah puncak dari persahabatannya.
Bersahabat
berarti berteman duduk, bergaul dan berdekatan. Tindakan seperti itu hanya
dilakukan seseorang terhadap orang yang disukai/dikasihi, karena orang yang tak
disukai akan dijauhi dan tidak digauli. Berbeda dengan persahabatan karena
kepentingan dan tujuan, mereka disatukan karena kepentingan itu sendiri.
Persahabatan seperti ini rentan karena bangunan pertemanan mereka semata
keuntungan materi, sehingga bila salah satu tak memenuhi kepentingan/tujuannya,
maka berlaku hukum alam, yang lemah/tak berkuasa/tak memberi keuntungan, pasti
akan dilupakan bahkan ditinggalkan.
PERSAHABATAN KARENA ALLAH
Dalam
persahabatan harus dilandasi karena Allah, karena persahabatan yang demikian
akan membawa berkah. Setidaknya, ada dua keuntungan, pertama faedah di bidang dunia
dan kedua dibidang agama. Faedah keduniawian mendapatkan keuntungan materil
berupa harta kekayaan maupun moril berupa pangkat dan jabatan.
Sedangkan
keuntungan dalam bidang agama, jumlahnya tidak akan terhitung, karena Allah
sendiri yang akan menilai. Seperti yang tersirat dalam salah satu hadis. Nabi
s.a.w. bersabda, (riwayat Turmuzi dan
Ibnu Madjah dari Abu Hurairah) :”bersikap
baiklah kepada tetanggamu dan engkau akan menjadi muslim sejati, dan bersikap
baikalah dalam persahabatan niscaya engkau akan menjadi Mukmin sejati.”
Kesejatian
iman dijadikan imbalan bagi persahabatan, dan kesejatian Islam dijadikan
imbalan kebaikan bertetangga. Hak dan
kewajiban persahabatan itu berat sekali yang hanya dapat dilaksanakan oleh
orang-orang yang yakin, maka tak diragukan lagi bahwa pahalanya amatlah besar
dan hanya dapat dicapai oleh orang yang diberi taufik oleh Tuhan.
HAK DAN KEWAJIABAN DALAM PERSAHABATAN
Bantulah
sahabat dengan menjaga LISAN anda, jangan
menyebutkan kejelekan dibelakang maupun dihadapannya, jangan mematahkan
pembicaraanya, jangan melecehkan dan mendebatnya atau mengintip dan menyelidik
sesuatu hal tentang dirinya.
Hendaklan
anda menyimpan rahasianya yang dipercayakan kepada anda, dan jangan sekali-kali
disiarkan, meskipun hubungan telah terputus. Jangan mencela orang-orang yang disayanginya,
keluarga juga anak-anaknya. Begitupun jangan menceritakan celaan orang lain kepadanya,
karena yang memakimu sebenarnya ialah orang yang menyampaikan makian orang
kepadamu.
ANAS
BIN MALIK BERUJAR : adalah Nabi saw. Tak
sudi menjengkelkan orang. Apabila ada orang yang menceritakan kejelekannya kepada
kita, hendaklah anda tak mengacuhkan. Begitupun sebaliknya anda tak perlu menceritakan
kepada teman anda, sesuatu dari orang lain yang sifatnya tercela. Namun demikian
tentang pujian janganlah anda menutup-nutupi terhadap teman yang terdengar oleh
kita. Intinya hindarkan setiap perkataan yang tak disukainya, baik secara umum
ataupun terperinci, kecuali bila diperlukan dalam AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR.
Menceritakan
keburukan kawan, ‘aib diri’ dan keluarganya adalah termasuk gunjing atau gossip
yang haram dilakukan setiap muslim. Untuk mencegah agar anda tak terjerumus
kedalam gunjing maka perbanyaklah intropeksi dan memaklumkan.
Orang
mukmin selalu memikirkan kebaikan sahabatnya, dan tak pernah memikirkan
keburukannya, dengan demikian akan timbul rasa hormat, cinta dan penghargaan.
Tidak demikian dengan orang munafik yang selalu mencari-cari keburukan dan
kesalahan orang lain. IBNU MUBARAK BERKATA :orang2 Mukmin mencari jalan untuk
memaafkan sedang orang munafik mencari2 kesalahan.
Selain
kewajiban menjaga lisan tentang keburukan, begitupun hendaknya Anda menjaga hati anda dari berburuk sangka kepada
sahabat, karena buruk sangka,termasuk gunjing hati. Perbanyaklah menafsirkan
hal-hal yang baik dan jangan menafsirkan hal-hal yang buruk, namun demikian,
apabila tersingkap secara menyakinkan, tentang keburukan sahabat anda secara penyaksian
maka hendaklah anda membawa kenyataan ini sebagai bentuk kekhilapan manusia.
Nabi
saw, bersabda (mutafaq Alaihi dari Abu Hurairah) : “jauhilah oleh mu buruk sangka karena prasangka itu adalah berita
bohong.” Buruk sangka membawa kita kepada kegiatan mencari-cari kesalahan
orang lain. Nabi saw, bersabda (mutafaq Alaihi dari Abu Hurairah) : “Buruk sangka membawa kepada mengintai,
mengintip, berselisih dan saling berbelakangan, hendaklah kamu menjadi hamba
Allah yang bersaudara!.”
“barang siapa yang menutup aib seorang muslim maka
Allah akan menutup aibnya di dunia dan diakhirat” begitu
Nabi saw bersabda.
Disamping
kewajiban kita berdiam terhadap hal-hal yang buruk dari teman, tapi sepatutnya,
kita tampil BERBICARA terhadap kebaikan teman, Nyatakanlah rasa kasih sayang
kepada sahabat dan tayakan yang perlu ditanyakan. Ungkapkan rasa simpati atas
suatu cobaan sahabat serta berharap Allah segera mencabutnya, begitupun mengungkapkan
rasa kegembiraan apabila sahabat kita
mendapatkan kebahagiaan. Itulah persahabatan harus ada kebersamaan dalam suka
maupun duka.
Mengutarakan
kasih sayang kepada sahabat adalah dianjurkan oleh syariat dan sangat terpuji,
karena dengan demikian akan timbul rasa kasih sayang pula dari sahabat kita,
tentunya akan menambah rasa kasih sayang itu sendiri selain akan membangkitkan
perasaan akrab antara kedua belah pihak.. Sabda Nabi saw, (riwayat Abu Daud
& Turmuzi dari MIqdam) :” Bila
seseorang sayang kepada saudaranya maka
hendaklah dinyatakan kepadanya.”
MAAFKAN
kesalahan dan kechilapan sahabat seraya memberikan nasihat dengan kasih sayang
agar ia tidak terjerumus dalam kesesatan. Memberikan nasihat kepada sahabat
haruslah dengan kesabaran. Selain dengan kata-kata yang lembut terkadang
diperlukan juga dengan kata-kata mengkritik, hal tersebut diperlukan bagi
sahabat yang keras hati yang tidak bisa berobah dengan kata-kata lembut.
Namun
apabila masih tetap tidak berubah dalam menjalankan kekufuran maka sebaiknya
anda bersikap tegas dengan kata-kata yang keras atau bila tak sanggup, menurut
beberapa ulama berpisah dengan teman seperti ini adalah jalan terbaik. Karena
apa artinya bersahabat apabila nasihat dan kritik tak mampu membuat dia sadar
akan kekeliruanya.
Hendaklah
Anda MENDO’AKAN sahabat semasa masih
hidup dan sepeninggalnya. Do’akan dia seperti untuk diri kita sendiri, tanpa
membeda-bedakan. Mulianya orang yang
mendo’akan sahabatnya, seperti tersirat dalam sabda Nabi saw, (riwayat Muslim
dari Abu Darda) :” Bila seseorang
mendoakan temannya saat temannya tidak tahu, maka para Malaikat akan
mengucapkan amin : Untuk anda seperti itu pula.”
Dalam
versi lain sabda Nabi saw, (riwayat Darqutny dari Abu Darda): “ Doa seorang sahabat untuk sahabatnya
dipembelakangan, tak akan ditolak.”
Haruslah
SETIA dan IKHLAS dalam meneruskan
kasih sayang kepada sahabat sehingga mati memisahkan, bahkan sepeninggalnya
harus di lanjutkan kepada anak-anak dan kawan2-nya. Ingat tujuan kita
bersahabat adalah untuk akhirat bila kita putus ditengah jalan sebelum mati,
maka gagal usaha dan sia-sia lah jerih payah.
Kesetiaan
dalam persahabatan termasuk didalamnya adalah meramahi kawan, keluarga dan
teman dekatnya. Sesungguhnya dengan meramahi dan menyambangi teman, keluarga
maupun teman dekatnya merupakan tanda kesetian dan keikhlasan dalam persahabatan,
hal itu menandakan bahwa persahabatan tidak
boleh dibatasi oleh kematian atau ketiadaan sahabat kita
Apalagi
jika teman kita masih hidup, selayaknya kita berkewajiban menjenguk dan
meramahinya dengan kasih sayang. Tunjukan rasa kesetiaan kita terhadapnya
disaat suka apalagi disaat teman kita sedang mendapat cobaan dari Allah SWT.
Ikhlaskan hati kita untuk terus menemani, membantu dan menyayanginya, meskipun sahabat
kita, sudah tidak bisa lagi membantu kita
karena beratnya cobaan yang dihadapi.
Perlakukanlah
dia dengan penuh kasih sayang seperti ketika dia masih bisa berkecimpung dan
membantu kita, janganlah sekali-kali meninggalkan sahabat disaat-saat sulit
dalam hidupnya. Karena sesungguhnya meninggalkan atau menelantarkan sahabat,
disaat dia memerlukan adalah perilaku orang-orang munafik jauh dari agama.
RINGANKAN BEBAN KAWAN dengan
tidak memberikan pekerjaan sulit kepadanya. Janganlah terlalu membebankan
kebutuhan pada sahabat. Harta ,pangkat dan jabatannya jangan terlalu
diberatinya dengan kepentingan dan kebutuhan kita. Seharusnya kita hanya
mengasihinya karena Allah dan untuk meminta berkat dan do’a-nya seraya merasa
senang bergaul serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan melayaninya.
Ingatlah
terlalu memanfaatkan sahabat bisa membawa malapetaka, karena sifat persahabatan
bisa membawa kepada pengorbanan jiwa, harta maupun tenaga. Tak sedikit orang
yang tergelincir/khilaf, karena ingin menolong sahabat lantas jalan pintaspun
dilakukan.
Ingatlah
kata ulama bijak : orang yang menuntut dari saudaranya hal-hal yang tidak
diwajibkannya berarti dia sudah menganiayanya, dan siapa yang menuntut seimbang
dengan yang diberikannya berarti merepotkannya, sedangkan yang memberi tapi
tiada menuntut itulah yang dapat melebihi sahabatnya (itulah yang terbaik).
Tulisan ini diadaptasi dari buku Ihya Ulumudin Adab
Persahabatan karya Alghazali
Aep Alamsyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar